Ponorogo | tahiro.id – Komitmen perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) dalam menjawab persoalan sosial masyarakat kembali diperkuat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Social Mapping KKN Kolaborasi Nusantara 2026 yang diselenggarakan di Amaris Hotel Ponorogo oleh LPPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Kegiatan ini dialksanakan mulai hari Rabu s/d Kamis, 03 s/d 05 Juni 2026 mempertemukan para pengelola Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari berbagai PTKIN anggota Eks-Persemakmuran IAIN Sunan Ampel antara lain perwakilan ; UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, UIN Mataram, UIN Sultan Aji Muhammade Idris Samarinda, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, UIN Madura dan UIN Syech Wasil Kediri untuk menyusun langkah strategis pengabdian masyarakat yang lebih berdampak dan berkelanjutan.
Ucapan selamat datang disampaikan oleh ketua LPPM UIN UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Dr. Unun Raudhatul Jannah, M.Ag, beliau menegaskan bahwa Pengabdian yang besar lahir dari kolaborasi yang tulus. Hari ini kita tidak hanya membuka program KKN, tetapi membuka harapan baru bagi purna pekerja migran untuk bangkit, mandiri, dan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Bersama, kita satukan langkah, kuatkan sinergi, dan wujudkan keberdayaan yang berkelanjutan.
Kegiatan ini dibuka oleh Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan bapak Dr. Wirawan Fadly, M.Pd, beliau mengapresiasi kolaborasi yang terjalin di antara PTKIN Eks-Persemakmuran dalam semangat kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi untuk hadir sebagai mitra strategis dalam mendukung pembangunan sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi para purna pekerja migran yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa, di akhir urainnya beliau kemudian membuka kegiatan ini secara resmi.
Baca Juga : Sinergi Kampus Dan Daerah: LP2M UIN Mataram Bahas Pelaksanaan KKP Bersama Pemda Lombok Tengah
LPPM UIN Mataram turut ambil bagian aktif dalam forum tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi nasional dalam pemberdayaan masyarakat berbasis riset dan kebutuhan lapangan. Mengusung tema “Pemberdayaan Purna Pekerja Migran dan Penguatan Kapasitas Keluarga Migran Berbasis Potensi Lokal Menuju Kemandirian Ekonomi”, kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif untuk merumuskan program pengabdian yang responsif terhadap tantangan sosial-ekonomi masyarakat migran.
Tidak sekadar diskusi, kegiatan diawali dengan proses social mapping atau pemetaan sosial di sejumlah wilayah sasaran. Tim peserta melakukan identifikasi langsung terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan potensi lokal masyarakat, khususnya keluarga pekerja migran dan para purna pekerja migran yang telah kembali ke daerah asal. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan program KKN yang akan dijalankan benar-benar berbasis kebutuhan riil masyarakat.

Perwakilan LPPM UIN Prof. Dr. H. Akhmad Asyari, M.Pd menegaskan bahwa isu pekerja migran tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan keluarga, pengembangan sumber daya manusia, dan keberlanjutan usaha produktif setelah masa bekerja di luar negeri berakhir.
“Purna pekerja migran memiliki pengalaman, jejaring, dan modal sosial yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikelola dan dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Di sinilah perguruan tinggi hadir melalui program KKN kolaboratif untuk memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat,” ujarnya.
Melalui FGD, para peserta membahas berbagai strategi pemberdayaan yang dapat diterapkan di lokasi KKN, mulai dari pengembangan usaha mikro berbasis potensi desa, peningkatan literasi keuangan keluarga migran, penguatan kelompok usaha produktif, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pemasaran produk lokal.
Di kegiatan hari kedua, pada saat pelaksanaan Social Maping ibu Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Ibu Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag menegaskan FGD dan Social Mapping yang dilaksanakan adalah ikhtiar untuk mendengar lebih banyak, memahami lebih dalam, dan merancang program yang lebih tepat sasaran. Karena keberhasilan pengabdian bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Kehadiran PTKIN dalam KKN Kolaborasi Nusantara 2026 menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan inovasi dan solusi akademik.
Forum ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kampus dalam menghadapi persoalan masyarakat yang semakin kompleks. Dengan menghimpun kekuatan sumber daya, keilmuan, dan pengalaman dari berbagai PTKIN, program KKN Kolaborasi Nusantara diharapkan mampu menghasilkan model pemberdayaan masyarakat yang lebih terukur, adaptif, dan berkelanjutan.

Melalui semangat kolaborasi tersebut, LPPM UIN Mataram bersama PTKIN Eks-Persemakmuran IAIN Sunan Ampel optimistis KKN Kolaborasi Nusantara 2026 akan menjadi ruang pengabdian yang tidak hanya hadir sebagai program rutin mahasiswa, tetapi juga menjadi instrumen nyata dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya bagi purna pekerja migran dan keluarga migran di berbagai daerah Indonesia. Semoga kegiatan KKN Kolaborasi Nusantara Persemakmuran Eks IAIN Sunan Ampel berjalan dengan baik, lancar dan sukses.












