Lombok Tengah | tahiro.id – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram memperingati Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2026 dengan menyelenggarakan kegiatan Road to Madrasah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 6 Lombok Tengah dan Yayasan Pondok Pesantren Zayyina Bish Shobri NW Gelanggang Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PSGA UIN Mataram dalam memperkuat Program Madrasah Ramah Anak sekaligus mendukung Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) Kementerian Agama Republik Indonesia.
Melalui penguatan Madrasah Ramah Anak dan Gernas RANA, PSGA UIN Mataram mendorong terwujudnya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, ramah terhadap keberagaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Gerakan tersebut menempatkan pemenuhan hak, perlindungan, dan partisipasi anak sebagai landasan utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Madrasah diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang yang menjamin anak dapat tumbuh, berkembang, berinteraksi, dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut, tekanan, maupun diskriminasi.
Kegiatan Road to Madrasah difokuskan pada penguatan literasi siswa mengenai pencegahan perundungan (bullying), tindakan kekerasan, pencegahan pernikahan anak dan intoleransi di lingkungan pendidikan. Melalui kegiatan ini, para siswa diberikan pemahaman tentang bentuk-bentuk perundungan, dampak kekerasan terhadap perkembangan anak, pentingnya menghargai perbedaan, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika mengalami atau menyaksikan tindakan yang merugikan teman.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa penciptaan ruang yang aman dan nyaman bagi anak memerlukan keterlibatan seluruh warga madrasah. Kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, dan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan serta membangun budaya pendidikan yang mengedepankan kepedulian, kesetaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat setiap anak.
Materi disampaikan Ibu Erma Suriani, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) dengan metode dialog dan bermain. Para siswa diajak mengenali bentuk-bentuk perundungan, fisik, verbal, fisik, sosial, dan bahkan perundungan di ruang digital. Siswa juga didorong untuk berani menyampaikan pengalaman, melaporkan tindakan kekerasan kepada guru atau pihak yang dipercaya, serta membangun budaya saling menghormati dan melindungi antarsesama.
Selain memberikan pemahaman mengenai perundungan, kegiatan ini menanamkan nilai toleransi sebagai fondasi penting dalam kehidupan bersama. Para siswa diajak memahami bahwa perbedaan latar belakang, kemampuan, karakter, pandangan, maupun kondisi sosial tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan, mengucilkan, atau melakukan kekerasan terhadap orang lain. Pesan ini disampaikan Bu Erma agar siswa menyiapkan mental dan pengetahuan menuju jenjang studi yang lebih tinggi, di mana siswa akan berhadapan dengan lingkungan yang lebih heterogen di masa depan. Ada empat komitmen sikap yang disampaikan sebagai langkah sederhana yang disuarakan siswa: “ No Bullying, No Violence, No Rasis, No. Body shaming….”
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari keluarga besar MTsN 6 Lombok Tengah dan Kepala-kepala Madrasah Yayasan Pondok Pesantren Zayyina Bish Shobri. Kepala madrasah, wakil kepala madrasah, dan para guru memberikan dukungan dan apresiasi atas perhatian dan komitmen UIN Mataram untuk tersu bermitra dengan madrasah dan pesantren. Pihak madrasah menilai penguatan literasi mengenai pencegahan perundungan, kekerasan, dan intoleransi sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik serta upaya mewujudkan madrasah yang aman dan ramah bagi seluruh anak.
Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh mahasiswa UIN Mataram yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) di Kelurahan Panji Sari, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah dan KKP Desa Gelanggang Kecamatan Sakra Timur. Para mahasiswa turut membantu koordinasi, pendampingan peserta, dan kelancaran rangkaian kegiatan. Keterlibatan mahasiswa tersebut memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, madrasah, dan masyarakat dalam memenuhi hak-hak anak.
Melalui kegiatan ini, PSGA UIN Mataram menegaskan bahwa pencegahan kekerasan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab keluarga atau lembaga tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Madrasah memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter peserta didik sekaligus memastikan setiap anak memperoleh perlindungan, kesempatan belajar, dan ruang tumbuh yang sehat.
Peringatan Hari Anak Nasional dan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) melalui kegiatan Road to Madrasah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa untuk tidak menjadi pelaku perundungan, berani melindungi teman, dan melaporkan tindakan kekerasan. Kegiatan tersebut juga diharapkan mendorong penguatan kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih inklusif serta berpihak pada kepentingan terbaik anak.
PSGA UIN Mataram berkomitmen untuk terus memperluas edukasi dan pendampingan mengenai perlindungan anak melalui kolaborasi dengan pesantren, madrasah, sekolah, pemerintah, mahasiswa, dan berbagai unsur masyarakat. Dengan semangat Hari Anak Nasional 2026, kegiatan ini membawa pesan bahwa setiap anak berhak belajar tanpa rasa takut, tumbuh tanpa kekerasan, dalam keadaan nyaman dan aman.












