Khutbah Idul Adha: Momentum Menguatkan Kepedulian dan Solidaritas Antarwarga

Hari Raya Idul Adha merupakan momen yang sangat bermakna untuk menumbuhkan dan mempererat kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam ajaran Islam, Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban semata, tetapi juga mengandung nilai keikhlasan, pengorbanan, kebersamaan, serta semangat berbagi dan membantu sesama.

Naskah khutbah berikut mengangkat tema “Khutbah Idul Adha: Momentum Menguatkan Kepedulian dan Solidaritas Antarwarga.” Bagi yang ingin mencetak teks khutbah ini, dapat menggunakan ikon cetak. Semoga memberikan manfaat dan inspirasi bagi para pembaca. (Redaksi)

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا

مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ كَمَا لَا نِهَايَةَ لِكَمَالِكَ وَعَدَدَ كَمَالِهِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ, فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُࣖ

Jamaah Shalat Idul Adha yang Dimuliakan Allah Subahanahu wa Ta’ala

Mari kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada pagi yang penuh keberkahan ini kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dan menunaikan Shalat Idul Adha secara berjamaah sebagai bentuk syukur dan penghambaan kepada-Nya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, teladan agung yang telah membimbing umat manusia dari masa kegelapan menuju cahaya Islam yang penuh rahmat dan petunjuk. Mudah-mudahan rasa cinta kita kepada beliau menjadi jalan untuk memperoleh syafaatnya kelak di hari kiamat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Pada momen yang penuh kemuliaan ini, marilah kita terus berupaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yakni dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya dalam setiap sisi kehidupan. Karena sesungguhnya, sebaik-baik bekal bagi seorang hamba, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat, adalah ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan penyembelihan hewan kurban semata. Di balik itu, Idul Adha menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai pengorbanan, kepedulian sosial, serta semangat saling membantu dan berbagi kepada sesama.

Salah satu bentuk nyata nilai sosial dalam Idul Adha dapat dilihat dari kisah persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para sahabat berhijrah ke Madinah.

Nabi bersama para sahabat rela meninggalkan kampung halaman, tempat tinggal, serta harta yang mereka miliki di Makkah di tengah berbagai tekanan, ancaman, dan intimidasi dari kaum Quraisy, demi menjaga dan mempertahankan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman di dalam Alqur’an surah Al-Hasyr ayat 9:

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

 

Artinya, “Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9).

Imam Al-Qurthubi dalam Kitab Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an jilid 18 halaman 21 menjelaskan bahwa kaum Anshar tidak hanya menerima kaum Muhajirin sebagai tamu biasa, tetapi mereka memperlakukan mereka seperti saudara sendiri.

Kaum Anshar dengan tulus berbagi tempat tinggal, makanan, kebun, bahkan harta benda demi membantu saudara-saudara mereka yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Sikap ini menunjukkan besarnya rasa persaudaraan, kepedulian, dan pengorbanan yang diajarkan dalam Islam.

 

يَعْنِي لَا يَحْسُدُونَ الْمُهَاجِرِينَ عَلَى مَا خُصُّوا بِهِ مِنْ مَالِ الْفَيْءِ وَغَيْرِهِ، كَذَلِكَ قَالَ النَّاسُ.

 

Artinya, “Maksudnya adalah kaum Anshar tidak merasa iri kepada kaum Muhajirin atas keistimewaan yang mereka peroleh berupa harta fai’ dan selainnya. Demikianlah pendapat para ulama.”

Dari penafsiran tersebut dapat dipahami bahwa kaum Anshar tidak memiliki rasa iri, dengki, atau keberatan terhadap keutamaan dan rezeki yang Allah berikan kepada kaum Muhajirin. Sebaliknya, mereka menyambut dan membantu dengan penuh keikhlasan.

Sikap ini menunjukkan tingginya derajat ukhuwah Islamiyah pada masa Rasulullah . Bahkan, Rasulullah  mempersaudarakan para sahabat satu per satu agar saling membantu dan menguatkan, seperti persaudaraan antara Abdullah bin Mas’ud dengan Mu’adz bin Jabal, Umar bin Khattab dengan Itban bin Malik, serta Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Kharijah bin Zaid.

Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar tidak hanya berupa ucapan atau simpati, tetapi diwujudkan dalam bentuk pengorbanan nyata. Mereka saling menolong bukan karena kelebihan materi atau kekuatan, melainkan karena keikhlasan dan rasa persaudaraan yang tulus karena Allah.

Jamaah Shalat Idul Adha yang Dimuliakan Allah Subahanahu wa Ta’ala

Di Tengah kehidupan masyarakat saat ini, semangat kepedulian dan gotong royong perlahan mulai memudar. Banyak orang hidup berdekatan tetapi tidak saling mengenal, banyak tetangga bahkan saudara sedang membutuhkan bantuan sementara budaya individualisme dan sikap mementingkan diri semakin menguat.

Padahal Islam mengajarkan bahwa kekuatan umat tidak hanya dibangun hanya dengan ibadah pribadi, tetapi juga hubungan sosial dengan orang lain, saling membantu, jaga solidaritas, dan rela berkorban.

Penerapan nilai-nilai Idul Adha dan semangat membantu sesama yang dicontohkan Rasulullah bersama kaum Muhajirin dan Anshar dapat diwujudkan melalui dua hal yang utama, yaitu:

Pertama, membangun semangat pengorbanan sosial, meneladani sikap gotong royong, dan saling membantu. Salah satu model gotong royong paling agung dalam sejarah manusia adalah hubungan antara kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah.

Ketika kaum Muhajirin datang dalam keadaan meninggalkan rumah, harta, dan pekerjaan mereka di Makkah, kaum Anshar tidak menyambut mereka sebagai beban sosial, tetapi sebagai saudara yang harus dimuliakan. Semangat saling membantu ini sejalan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an:

 

.وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

 

Artinya, “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah : 2)

Semangat gotong royong seperti ini sangat penting dihidupkan kembali di zaman sekarang. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individual, umat Islam harus kembali membangun kepedulian sosial, seperti membantu tetangga yang kesulitan, ikut meringankan beban korban bencana, membantu warga sakit, serta aktif dalam kegiatan sosial dan kerja bakti di lingkungan masyarakat.

Sebab masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang dipenuhi orang-orang kaya semata, tetapi masyarakat yang warganya saling peduli, saling menopang, dan saling membantu dalam kebaikan.

Kedua, kita perlu menghidupkan kembali semangat kaum Anshar dalam kehidupan masyarakat modern. Kaum Anshar telah memberikan teladan yang sangat indah tentang arti persaudaraan, kepedulian, dan pengorbanan.

Mereka tidak hanya menerima kaum Muhajirin sebagai tamu, tetapi memperlakukan mereka sebagai saudara sendiri. Mereka membuka hati sebelum membuka rumah, dan melapangkan dada sebelum berbagi harta.

Bahkan, kecintaan mereka dalam membantu begitu besar hingga mereka berlomba-lomba untuk memuliakan saudaranya, sampai harus dilakukan undian karena banyaknya yang ingin memberikan bantuan. Ini menunjukkan betapa kuatnya rasa ukhuwah dan keikhlasan yang mereka miliki.

Begitu banyak jasa yang diberikan oleh Kaum Anshar kepada Kaum Muhajirin, bahkan di dalam kitab As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhuil Quran Wa Sunnah karya Imam Muhammad Abu Syahbah jilid 2, halaman 53, menyebutkan keistimewaan Kaum Anshar, yang berbunyi,

“Sesungguhnya orang yang merenungkan apa yang telah dilakukan oleh kaum Anshar terhadap Nabi dan saudara-saudara mereka kaum Muhajirin pasti akan merasa kagum terhadap apa yang dilakukan oleh kaum tersebut. 

Dan jika ia berusaha mencari sebab-sebabnya, maka ia tidak akan menemukan selain sebab dari segala sebab, yaitu bahwa hal itu terjadi karena karunia dan rahmat Allah, bukan karena buatan manusia, kecerdasan, atau strategi dan kebijaksanaannya.”

Sungguh besar dan mulia jasa kaum Anshar kepada kaum Muhajirin. Semangat luar biasa ini tidak seharusnya hanya menjadi cerita dalam sejarah, tetapi perlu dihidupkan kembali dalam kehidupan kita saat ini.

Di zaman ini, ketika banyak orang lebih sibuk dengan urusan dirinya sendiri, kita justru dituntut untuk menghadirkan kembali jiwa kaum Anshar dalam kehidupan sosial. Sikap peduli, saling menolong, dan mendahulukan kepentingan saudara seiman perlu kembali ditanamkan agar tercipta masyarakat yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الْحَبِيبِ الْعَالِي الْقَدْرِ الْعَظِيمِ الْجَاهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الله، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكريم: وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ