Mataram | tahiro.id – Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram terus memperkuat kualitas pelaksanaan Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) dengan menghadirkan paradigma pengabdian masyarakat yang lebih inklusif dan berorientasi pada kesehatan mental. Melalui kegiatan pembekalan KKP Tahun 2026, mahasiswa tidak hanya dibekali dengan kemampuan menyusun dan melaksanakan program kerja, tetapi juga dipersiapkan menjadi agen perubahan yang memiliki empati, ketangguhan, serta kepedulian terhadap seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai bagian dari persiapan penerjunan mahasiswa KKP, LP2M UIN Mataram menyelenggarakan pembekalan bagi peserta KKP Reguler yang dilaksanakan berdasarkan zona kabupaten pada Juni 2026. Pembekalan berlangsung di Auditorium UIN Mataram, untuk wilayah mahasiswa yang berlokasi di Lombok Timur (17 Juni 2026), Lombok Tengah (18 Juni 2026), Lombok Barat (19 Juni 2026), dan Lombok Utara (22 Juni 2026). Kegiatan ini merupakan tahapan penting sebelum mahasiswa diterjunkan ke lokasi pengabdian untuk mengimplementasikan program-program pemberdayaan masyarakat. Jumarim, Wakil Rektor III dalam acara pembukaan pembekalan menyampaikan, bahwa KKP adalah medan ujian mental spiritual bagi mahasiswa, semua akan ditempa dengan bentuk tantangan yang berbeda pada setiap wilayah, maka penting mempersiapkan ketangguhan dan kesehatan mental untuk bisa melaluinya dengan baik.
Pada pembekalan tersebut, Kepala Pusat Kajian dan Layanan Konseling dan Disablitas, Mira Mareta, menyampaikan salah satu materi utama yakni “KKP Inklusif dan Sehat Mental: Membangun Empati, Ketangguhan, dan Kepedulian Sosial Mahasiswa”. Materi ini menekankan bahwa keberhasilan pengabdian masyarakat tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa membangun hubungan yang setara dengan masyarakat serta meninggalkan dampak sosial yang berkelanjutan.

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa mahasiswa KKP akan menghadapi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari proses adaptasi, dinamika kelompok, hingga interaksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan kebutuhan yang beragam. Oleh karena itu, aspek kesehatan mental dan kemampuan membangun empati menjadi bekal penting agar mahasiswa mampu menjalankan pengabdian secara efektif sekaligus menjaga kesejahteraan psikologisnya sendiri.
Konsep KKP Inklusif yang diusung UIN Mataram mengajak mahasiswa memastikan bahwa setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari setiap program yang dijalankan. Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi penyandang disabilitas, lansia, perempuan dan anak, kelompok miskin dan rentan, serta individu yang mengalami permasalahan kesehatan mental. Prinsip utama yang ditekankan adalah menghargai perbedaan, tidak diskriminatif, partisipatif, dan ramah bagi semua.
Selain itu, mahasiswa juga didorong menerapkan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dalam setiap tahapan pengabdian, mulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat, diskusi bersama warga, penyusunan program, pelaksanaan, hingga evaluasi secara partisipatif. Pendekatan ini memperkuat posisi masyarakat sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar objek kegiatan pengabdian.
Di samping membangun kepedulian terhadap masyarakat, mahasiswa juga dibekali strategi menjaga kesehatan mental selama menjalankan KKP. Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain tekanan pencapaian target program, konflik dalam kelompok, rasa rindu rumah (homesick), serta kelelahan fisik dan emosional. Untuk mengatasinya, mahasiswa didorong menjaga waktu istirahat, membangun sistem dukungan antarteman, berbagi cerita ketika menghadapi masalah, melakukan teknik relaksasi sederhana, serta mengelola ekspektasi selama berada di lokasi pengabdian.
Melalui pembekalan ini, UIN Mataram menegaskan komitmennya untuk melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, menjunjung nilai-nilai inklusi, serta mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. Semangat KKP Inklusif dan Sehat Mental diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya program-program pengabdian yang lebih berdampak, berkelanjutan, dan berpihak kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Sebagaimana ditekankan dalam materi pembekalan, keberhasilan KKP sejatinya diukur dari seberapa besar empati, kepedulian, dan perubahan positif yang mampu ditinggalkan bagi masyarakat.












