Di tengah dunia yang semakin dipenuhi polarisasi, prasangka, dan ketegangan identitas, UIN Mataram kembali menghadirkan ruang yang menyejukkan: ruang dialog, ruang persaudaraan, dan ruang kemanusiaan. Melalui kegiatan “Ngopi Lintas Iman” bertema “Merawat Solidaritas Iman Menuju Solidaritas Kemanusiaan”, UIN Mataram menegaskan komitmennya sebagai kampus moderasi yang terus merawat harmoni sosial dan memperkuat relasi antarumat beragama.
Bertempat di Gedung Research Center Kampus II UIN Mataram, kegiatan ini berlangsung dalam suasana hangat, reflektif, dan penuh semangat kebersamaan lintas iman. Secangkir kopi menjadi medium sederhana yang mempertemukan beragam keyakinan dalam satu meja dialog yang hangat, tidak untuk mendebatkan perbedaan, melainkan untuk menumbuhkan empati, membangun kepercayaan, dan menguatkan solidaritas kemanusiaan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram di bawah kepemimpinan Apipuddin. Dalam pengantar diskusinya, Apipuddin menegaskan bahwa forum lintas iman semacam ini perlu terus dirawat dan diselenggarakan prinsipnya Sering, Saling dan sharing secara berkelanjutan sebagai ruang saling mengenal, saling mendengar, dan saling berbagi pengalaman.

Acara ini dibuka langsung oleh Prof. Dr. H. Masnun selaku Rektor UIN Mataram. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi pusat penguatan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan moderasi beragama. Menurutnya, dialog lintas iman merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban yang damai, inklusif, dan berkeadaban.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Kadri yang menegaskan bahwa solidaritas lintas iman tidak cukup berhenti pada simbol toleransi, tetapi harus diwujudkan dalam aksi sosial dan kepedulian nyata terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. H. Ahmad Asyari bersama sejumlah pimpinan pusat studi dan lembaga di lingkungan LP2M UIN Mataram, di antaranya Kepala Pusat Pengabdian, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak, Kepala Pusat Publikasi, Kepala Pusat Penelitian, Kepala International Office, serta Ketua Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan (PUSDEK) UIN Mataram.
Suasana dialog semakin hidup dengan kehadiran para tokoh Kristen NTB, di antaranya Pdt. Simon Simanjuntak, Pdt. Deny Rembet, serta Pdt. Suwardi bersama para pendeta lainnya. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa persaudaraan lintas iman bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang terus hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Tidak hanya itu, kegiatan ini juga turut dihadiri oleh perwakilan Densus 88 AT Polri Satuan Tugas Wilayah NTB serta Subdit 5 Bidang Keamanan Khusus Polda Nusa Tenggara Barat. Kehadiran unsur keamanan tersebut menjadi simbol sinergi bersama dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat moderasi beragama, serta mencegah tumbuhnya intoleransi dan ekstremisme di tengah masyarakat.

“Ngopi Lintas Iman” bukan sekadar forum diskusi. Ia adalah pesan moral bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh atau mencurigai. Sebaliknya, keberagaman adalah kekuatan untuk membangun solidaritas yang lebih besar: solidaritas kemanusiaan.
Dari ruang sederhana dan percakapan yang tulus, kegiatan ini menghadirkan harapan bahwa persaudaraan antarumat beragama dapat terus dirawat, diperkuat, dan diwariskan sebagai fondasi Indonesia yang damai, inklusif, dan berkeadaban. (☕☕☕)














