Rangkaian ICONSIDE 2026 Berlangsung Meriah, Perkuat Kolaborasi Global dalam Transformasi Pendidikan

Penulis : Ahmad Turmuzi

Editor : Tim Redaksi Tahiro.id

Mataram – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan keilmuan dan kolaborasi internasional melalui penyelenggaraan The 4th International Conference on Islamic Education and Science Development (ICONSIDE) 2026 yang berlangsung pada 10 Juni 2026 di Hotel Lombok Raya, Mataram. Mengusung tema “Integrating AI Technology, Digital Transformation, and Character Development in Shaping the Future of Education,” konferensi ini menghadirkan para akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara untuk mendiskusikan masa depan pendidikan di era kecerdasan artifisial.

Sejak pagi hari, suasana akademik telah terasa dengan proses registrasi peserta yang dimulai pukul 07.30 WITA di Rinjani Ballroom Lombok Raya Hotel. Ratusan presenter dan peserta dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri hadir secara luring maupun daring untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan konferensi. Acara kemudian dibuka dengan penyambutan peserta, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menambah nuansa khidmat dalam pembukaan konferensi internasional tersebut.

Dalam sambutan pembukaan, Dekan FTK UIN Mataram, Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd., menegaskan pentingnya forum akademik internasional sebagai ruang pertukaran gagasan dan hasil penelitian lintas negara. Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial harus direspons secara kritis dan konstruktif oleh dunia pendidikan tanpa mengabaikan pembangunan karakter peserta didik.

Konferensi kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III UIN Mataram, Prof. Dr. H. Jumarim, S.Ag., M.HI Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi konsistensi FTK UIN Mataram dalam menyelenggarakan konferensi internasional yang mampu mempertemukan para akademisi dunia dalam satu forum ilmiah. Rektor juga menekankan bahwa kegiatan seperti ICONSIDE memiliki peran strategis dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus meningkatkan reputasi internasional UIN Mataram.

Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi para pembicara internasional, panitia memberikan token of appreciation kepada seluruh keynote speaker yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Momentum ini menjadi simbol kolaborasi akademik lintas negara yang terus berkembang melalui ICONSIDE.

Sesi Pleno Hadirkan Perspektif Global tentang AI dan Pendidikan
Memasuki sesi pleno, peserta memperoleh wawasan komprehensif dari lima pembicara utama yang berasal dari Australia, Amerika Serikat, Malaysia, dan Indonesia. Sesi pertama menghadirkan Prof. Janine Arantes, Ph.D. dari Victoria University Australia yang membagikan pandangannya mengenai perkembangan pendidikan global di tengah disrupsi teknologi.

Diskusi diawali dengan pandangan global dari Prof. Janine Arantes, Ph.D. dari Victoria University, Australia, yang mengulas perkembangan mutakhir pendidikan dan riset di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks. Perspektif tersebut menjadi pijakan penting dalam memahami bagaimana lembaga pendidikan beradaptasi dengan perubahan zaman sambil tetap menjaga kualitas akademik dan relevansi sosialnya.

Pembicara kedua, Prof. Muhammad Ali, Ph.D. dari University of California Riverside, Amerika Serikat, mengangkat tema “AI Technology, Digital Transformation, and Character Development in Shaping Islamic Studies and the Study of Religions.” Dalam paparannya, ia menyoroti bagaimana teknologi kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan untuk memperkuat studi keislaman dan kajian agama, sekaligus menekankan pentingnya nilai-nilai etis dalam penggunaan teknologi digital.

Perspektif regional Asia Tenggara disampaikan oleh Prof. Madya Dr. Mohamad Khairi Bin Haji Othman dari Universiti Utara Malaysia melalui materi “Integrating AI Technology and Character Development in Malaysia: Challenges and Solutions.” Ia memaparkan berbagai tantangan implementasi AI dalam sistem pendidikan serta strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan penguatan karakter peserta didik.

Sementara itu, Francisca Maria Ivone, Ph.D. dari Universitas Negeri Malang membawakan materi “AI and the Future of Human Learning: A Teacher-Researcher’s Journey from Tool to Transcendence.” Presentasi ini mengajak peserta melihat AI bukan sekadar alat bantu pembelajaran, tetapi sebagai sarana yang dapat mendorong transformasi cara belajar manusia secara lebih mendalam dan bermakna.

Melengkapi pembahasan tersebut, Prof. Dr. H. Saparudin, M.Ag. dari UIN Mataram mengangkat isu yang sangat relevan melalui tema “Sexual Harassment in the Educational Environment: The Paradox of Pesantren in Character Empowerment.” Paparan tersebut membuka ruang diskusi kritis mengenai tantangan perlindungan peserta didik serta pentingnya penguatan budaya pendidikan yang aman dan berkeadilan.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Berbagai pertanyaan muncul terkait pemanfaatan AI dalam pendidikan, etika digital, penguatan karakter, hingga tantangan pendidikan Islam di era transformasi teknologi. Diskusi tersebut menunjukkan tingginya perhatian akademisi terhadap isu-isu pendidikan masa depan.

15 Ruang Paralel Jadi Wadah Presentasi 157 Peneliti
Usai sesi pleno dan istirahat siang, kegiatan dilanjutkan dengan sesi paralel yang menjadi inti konferensi. Panitia menyediakan lima ruang presentasi luring di Hotel Lombok Raya, yaitu Rinjani Ballroom 1, Gili Trawangan Room, Gili Air Room, Mandalika Room, dan Sangkareang Room. Selain itu, tersedia sepuluh ruang paralel daring melalui Zoom untuk mengakomodasi presenter dari berbagai negara yang mengikuti kegiatan secara virtual.

Pada sesi paralel pertama yang berlangsung pukul 14.00–15.30 WITA, para presenter memaparkan hasil penelitian terbaru dalam bidang pendidikan Islam, teknologi pendidikan, pengembangan kurikulum, sains, bahasa, literasi digital, hingga penguatan karakter. Setiap ruang diskusi dipandu oleh moderator dan reviewer yang memberikan masukan akademik terhadap setiap karya yang dipresentasikan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi paralel kedua pada pukul 16.00–17.30 WITA. Diskusi berlangsung produktif dan interaktif dengan pertukaran ide, pengalaman penelitian, serta peluang kolaborasi lintas institusi dan negara. Melalui forum ini, para peserta tidak hanya mempresentasikan hasil riset, tetapi juga membangun jejaring akademik yang berpotensi melahirkan berbagai kerja sama penelitian di masa mendatang.

Secara keseluruhan, rangkaian plenary session ICONSIDE 2026 memperlihatkan satu benang merah yang kuat, yaitu perlunya membangun sinergi antara kecerdasan teknologi, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual. Kemajuan AI dan transformasi digital merupakan realitas yang harus direspons secara kreatif, kritis, dan bertanggung jawab. Pendidikan Islam pada akhirnya dituntut menghadirkan keseimbangan antara inovasi teknologi dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan demi melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan berintegritas dalam menghadapi masa depan.

Dukung Program MBG
Dukung MBG 🇮🇩
Apakah Anda mendukung Program Makan Bergizi Gratis untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045?
Terima Kasih
Dukungan Anda sangat berarti untuk masa depan generasi Indonesia.