Oleh. Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir. M.Ag

Gelombang kepulangan jamaah haji kembali ke tanah air dimulai dari tanggal 4 Juni 2023 lalu, dan kloter pertama jamaah haji 2023 telah sampai ke tanah air.

Hal yang paling penting diingat dalam sejarah perjalanan jamaah haji Indonesia dari tahun ke tahun adalah bahwa tahun ini merupakan moment haji yang sangat special karena diprioritaskan bagi jamaah lansia yang tertunda keberangkatan dikarenakan pandemic covid 19.

Beberapa waktu lalu, beberapa media melansir bahwa Kerajaan Arab Saudi mengatakan haji tahun 2023 sukses dan tidak ada penyakit atau risiko kesehatan yang dilaporkan selama penyelenggaraan haji.

Konteks ini didukung dengan fakta bahwa jumlah jemaah haji juga telah kembali ke era pra-pandemi. Bahkan Kementerian Haji dan Umrah Saudi menyampaikan bahwa tahun ini merupakan ibadah haji terbesar dalam sejarah Arab Saudi.

Ibadah haji tahun 2023 banyak sekali fenomena baik yang dapat dijadikan sebagai legasi untuk pelaksanaan haji tahun-tahun berikutnya. Dimana di tahun ini jumlah jamaah haji Indonesia mencapai 229.000 diantaranya ada 66.943 jemaah lansia.

Kuota jamaah haji dari Indonesia yang sangat besar dibanding tahun sebelumnya. Pelayanan yang sudah diberikan tentu sangat maksimal dan prima oleh 4.200 petugas haji dari Indonesia.

Menjadi petugas haji bukan pekerjaan yang ringan (sebagaimana pengalaman penulis pada tahun 2013 dan 2019), butuh kekuatan dan kesabaran ekstra serta dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas, apalagi dalam konteks pelayanan terhadap lansia.

Kita bisa melihat di berbagai media bahwa salah satu sukses pelayanan haji kali ini, karena Kementerian Agama memberikan porsi lebih untuk petugas haji dan memberikan bekal yang paten untuk proses pelayanan haji, maka pemandangan “pelayanan maksimal dan profesional” dapat kita lihat dari para petugas haji Indonesia tahun ini.

Kesuksesan haji tahun ini juga tidak lepas dari peran kunci Kementerian Agama, khususnya bapak Menteri Agama H. Yaqut Cholil Qoumas yang memberikan perhatian penuh terhadap pelayanan haji tahun ini.

Bahkan Gus Menteri dan jajaran Pimpinan Kementerian Agama RI, serta petugas haji tahun ini sudah sangat luar biasa mendedikasikan jiwa, raga untuk mensukseskan pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

Hal inilah yang patut kita ingat dan kita nilai sebagai kesuksesan pelaksanaan ibadah haji ramah lansia tahun ini.

Dalam proses pelaksanaanya kita dapat melihat bagaimana diplomasi dibangun oleh Gus Menteri dan jajaran di Kementerian Agama dalam membangun komunikasi aktif dan efektif untuk mendapatkan pelayanan prima dan maksimal dalam pelaksanaan haji, bahkan dalam beberapa konteks Gus Menteri secara langsung memimpin negosiasi dalam proses pelaksanaan haji.

Konteks ini dilakukan dalam hal melaksanakan, memberikan dan memperoleh pelayanan haji yang kaffah dan sempurna dalam setiap prosesnya.

Kita juga telah mendengar bagaimana Gus Menteri secara tegas melakukan negosiasi tanpa “kompensasi” ketika pelayanan untuk jamaah haji Indonesia mengalami kendala ketika di Muzdalifah.

Oleh karena itu, dari apa yang kita saksikan dalam proses pelayanan haji tahun ini, kita memiliki pandangan dan harapan positif terhadap pelaksanaan haji pada tahun-tahun mendatang karena kekurangan tahun ini oleh pihak luar akan menjadi pengalaman yang tentu tidak akan terulang kembali.

Jika menelusuri jejak diplomasi haji, Gus Menteri telah sukses melakukan diplomasi bukan hanya dalam konteks pelayanan, kita juga harus mengingat proses sukses haji tahun ini diawali dari proses sukses haji tahun 2022 lalu yang juga berkat diplomasi yang efektif dari Kementerian Agama RI.

Selain itu kita juga harus mengingat tentang negosiasi penambahan kuota, penurunan harga, penambahan petugas dan juga pelayanan khusus lansia.

Oleh karena itu, wajah sukses pelaksanaan haji tahun ini adalah wajah sukses diplomasi Kementerian Agama Republik Indonesia. Apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Agama atas perjuangan yang telah dilakukan untuk para jamaah haji Indonesia. Selamat datang kembali ke tanah air jamaah haji Indonesia. Hajjan Mabruran.

Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri Mataram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *